KPU Seperti Collina
Kolom : Andra S Kelana

WASIT adalah seorang yang dipercayakan menjadi pemimpin. Wasit adalah seorang yang telah ditasbihkah menjadi juri dalam perhelatan maupun suatu pertandingan. Apakah itu pertandingan olahraga, ataupun pertandingan dalam partai politik. Saya hanya menggaris-bawahi, wasit di sini adalah wasit politik, yang sebentar lagi akan terjadi suatu pertandingan besar di negara ini. Di mana, seluruh partai politik yang sudah disyahkan oleh Mahkamah Agung untuk ikut perhelatan akbar lima tahunan yaitu Pemilihan Umum, akan bertanding untuk meraih suara terbanyak.

Namanya juga pertandingan. Pasti masing-masing tim akan mempertunjukkan kemampuan, kehebatan tim yang telah dibentuk, kematangan dalam menyerang, kemampuan finansial untuk membeli pemain, atau kemampun finansial untuk menyogok wasit, mempengaruhi wasit, dan segala macam cara. Apalagi, setelah lima tahun berlatih [baca usai pemilu 7 Juni 1999], tentu tim-tim papan atas akan semakin memperkokoh diri, untuk meraih ‘’scudetto’’, dan tidak mau kecolongan, pada pertandingan lima tahun yang lalu.

Nah, dalam kenyataan seperti ini, maka orang yang menjadi wasit harus benar-benar berkualitas tinggi, intelektualitasnya matang. Orang yang menjadi wasit dalam pertandingan partai politik ini, adalah harus tegas, jeli melihat segala kesalahan dan trik-trik dalam permainan. Kalaulah bisa, wasit dalam pertandingan ini mengikuti jejak langkah wasit sepakbola Liga Italia Serie A, Collina yang dinobatkan menjadi wasit terbaik versi FIFA.

Collina tidak perduli, apakah itu tim raksasa, tim papan atas, atau hanya trik-trik pemain untuk menjatuhkan lawan, jika terbukti melanggar, maka akan dikenakan sanksi, bahkan kartu kuning-merah pun akan keluar. Ketegasan Collina dalam memimpin partai pertandingan tidak diragukan lagi, sehingga, penyelenggara pertandingan pun tidak segan-segan harus membayar mahal untuk mendatang Collina untuk menjadi pemimpin dalam pertandingan ini. Nah, mampu dan maukah wasit-wasit dalam memimpin partai pertandingan politik mengikuti jejak langkah Collina, yang mungkin tidak akan menerima segala bentukan sogokkan.

Lantas, siapakah ‘’mahkluk’’ yang tunjuk dan dipilih oleh pemerintah daerah untuk memimpin pertandingan partai politik lima tahunan ini, tentu saja kita sudah mengetahuinya, dan sekarang menjadi lahan perebutan setiap orang –entah karena pasilitas atau karena kedudukan--. Wasit itu bernama Komisi Pemilihan Umum [KPU]. Komisi yang dibentuk pada pemilu 1997 ini, tampaknya masih dipakai oleh negara ini menjadi wasit pada pertandingan lima tahunan ini.

***

BAGAIMANA dengan wasit daerah Kota Batam?. Tim FIFA [dibaca; Sekretariat KPU Kota Batam] sudah menunjuk dan memilih sepuluh anggota wasit KPU dari 45 calon anggota KPU yang mendaftarkan diri. Kesepuluh anggota KPU ini dianggap sudah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh KPU itu sendiri; sekedar untuk mengingat, ada pun persyaratan menjadi anggota KPU daerah antara lain; sehat jasmani dan rohani, berhak memilih dan dipilih, mempunyai komitmen yang kuat terhadap tegaknya demokrasi dan keadilan, mempunyai integritas pribadi yang kuat, jujur dan adil, memiliki pengetahuan yang memadai tentang politik, kepartaian, pemilu dan kemampuan kepemimpinan, tidak menjadi anggota atau pengurus partai politik, tidak sedang menduduki jabatan politik dan jabatan struktural dalam jabatan pegawai negeri.

Selain peryaratan di atas, seorang anggota KPU harus bersifat independensi dan nonpartisan. Dan ini harus tercermin dari seluruh anggota KPU daerah kota Batam. Kemudian, anggota KPU sebagai penyelenggara pemilihan umum di daerah, bersifat mandiri, berkepribadian tetap, bersifat nasionalisme, tidak memihak, transparansi, profesionalisme, harus menjunjung tinggi asas-asas pemilihan umum secara demokratik, dengan melibatkan partisipasi rakyat seluas-luasnya sehingga hasilnya dipercaya masyarakat. Komisi Pemilihan Umum adalah komisi mempunyai integritas tinggi, independensi yang dibentuk sesuai dengan Undang-undang tentang pemilihan umum.

Melihat persyaratan di atas, memanglah sangat berat beban yang harus dipikul seorang wasit untuk menjadi pemimpin dalam pertandingan partai politik ini. Selain harus mempertanggungjawabkan kepada negara hasil kinerjanya, terlebih lagi harus mempertanggungjawabkan kepada rakyat, karena dampak dari kesalahan-kesalahan dalam penyelenggaraan ini adalah rakyat. Jika seorang wasit curang dalam mempimpin, maka wasit pun menjadi hujatan rakyat, bahkan rakyat bisa marah, menyerang, menghatam wasit. Begitu juga para pemainnya, tidak puas atas tindakan wasit dalam memimpin, maka pemain pun akan lebih marah.

Untuk itulah, sebagai seorang wasit yang telah dipercayai oleh rakyat ini, harus menjunjung tinggi kode etik pelaksanaan pertandingan. Artinya anggota KPU daerah yang sudah disyahkan oleh kepala wilayah, harus berpegang teguh kepada kode etik pelaksanaan Pemilihan Umum yang telah dibuat dan disyahkan. Dan sekali lagi, hanya sekadar untuk mengingatkan dan menjadi pedoman untuk masyarakat apa sebenarnya yang menjadi kode etik anggota KPU.

Ada tujuh kode etik menjadi anggota KPU antaranya; menggunakan kewenangan berdasarkan hukum, bersikap dan bertindak non-partisan dan imparsial, bertindak transparan dan akuntabel, melayani pemilih menggunakan hak pilihnya, tidak melibatkan diri dalam konflik kepentingan, bertindak profesional, administrasi pemilihan umum yang akurat. Kenapa mesti dibuat kode etik ini, karena sebagai seorang penyelenggara pemilihan umum, haruslah sadar bahwa ini merupakan tugas berat dan terhormat yang dipercayai oleh rakyat dan negara. Agar kerjanya dipercayai oleh publik, maka diperlukan suatu ikatan-ikatan, aturan-aturan yang tidak boleh dilanggar. Kode etik ini merupakan rambu-rambu seorang penyelenggara, yang tujuannya tidak melenceng dari garis line yang telah dibuat.

Untuk itu, lima wasit KPU daerah terpilih nantinya, hendaklah tidak melupakan apa yang menjadi rambu-rambu sebagai penyelenggara. Dan yang terpenting, sesuai dengan motto dari KPU adalah; melayani rakyat menggunakan hak pilihnya. Dan jangan sampai anggota KPU minta dilayani, seperti pemenuhan fasilitas-fasilitas, gaji yang besar dan jangan sampai menyalahgunaan anggaran.

Para anggota yang terlibat dalam proses penunjukan dan pengangkatan anggota KPU daerah ini, kita harapkan dalam memilih lima calon anggota KPU tetap, haruslah mempertimbangkan profesionalisme, intelektualitas, mempunyai integritas tinggi dan loyalitas terhadap kepentingan rakyat, daripada kepentingan pribadi. Yang jelas, sifat independensi harus dijunjung tinggi oleh calon anggota KPU. Para pemilih calon anggota KPU, tidak hanya sekadar mengingat sejarah daripada sekadar pertimbangan-pertimbangan perpolitikan yang menguntungkan pribadi dan golongan sesaat saja, calon anggota KPU tersebut. Sebab rakyat mengharapkan, anggota KPU itu haruslah benar-benar menjadi wasit pertandingan yang profesionalisme. Kalau bisa, wasit partai pertandingan ini benar-benar seperti Collina, ketika memimpin dalam pertandingan. Salah, sprit. Melakukan pelanggaran keras dan merugikan pemain lainnya, maka wasit harus berani mengeluarkan kartu kuning, jika pelu kartu merah. Silakan tuan-tuan meng-artikan sendiri. Selamat kepada anggota KPU terpilih. ***

Yang baca berpahala..


Perempuan Pendosa
Cerpen : Andra S Kelana
PEREMPUAN itu beristirahat sebentar di bawah bunga kertas yang tumbuh mekar. Dihapusnya butiran keringat yang mengerintil di pelipis mata dan keningnya. Dan ia tertunduj, menatap ke tanah, yang retak-retak, karena panas bumi.
Di tanah yang belum mendapatkan tetesan air, berserakan bunga kertas merah, putih, kuning. Rontok, karena musim kemarau panjang telah tiba. Bunga-bunga kertas itu berserakan, tak pernah dibersihkan oleh petugas. Selembar, dua lembar bunga itu melayang-layang, hingga di kepala perempuan itu.
Perrmpuan ramping berambut pirang sebahu, tampaknya sedang menggengam luka sayatan sembilu si tangannya. Perempuan yang lelah matanya, tampaknya sedang marah pada dirinya. Ini terlihat dari sorotan mata, bagaikan ingin mengali tanah-tanah di hadapannya. Lalu dia tanam, kesakitan yang menimpa dirinya, atau akan menguburkan tubuhnya hidup-hidup.
Bagaikan seorang penari telanjang, jari perempuan itu lentik, meliuk-liuk memegang sebatang rokok. Lalu, asapnya mengepul ke udara, mencemari atmosfer sekitarnya. Karbondioksida dari rokok itu, melayang-layang bersama angin, menggangu pernafasan bunga kertas, tempat dia bernaung.
‘’Bertahun-tahun aku hidup dengan dunia fantasi, tak terwujud secara pasti. Apakah bulat atau kerempeng. Atau…!’’ Perempuan itu mencoba mengajak berbicara pada baying-bayang dirnya, yang ditimpa lembayung senja keemasan.
‘’Rumah ku, setiap bilik-bilik kamar hotel bermesin pendingin yang menyimpan sepi. Tapi, aku tak pernah merasakan kenikmatan.’’ Kata perempuan yang lelah mata itu, mengajak baying-bayang dirinya untuk bisa berbicara kepadanya. Dan dia dapat mencurahkan isi hatinya.
Sejak menstruasi pertama, perempuan itu terus berkata-kata pada bayangan. Ketika itu, aku duduk dibangku sekolah lanjutan pertama. Anehnya, aku sudah menikmati apa yang namanya bersetubuh dengan kaum lelaki. Hingga seluruh badan ku berkeringat, menahan gejolak nafsu asmara. Pacar pertamaku bernama Acian, anak keturunan Tionghoa.
Waktu tiu, Acian sangat ketakutan setelah mereguk madu ditubuhku. Padahal kami belum menikah, dan memang belum pantas untuk memnjadi seorang rajadan permaisuri sahari. Tetapi perbuatan seperti suami istri tak dapat di hitung dengan jari. Aku benar-benar menjadi perempuan sundal-gatal.
Acian bertanggung jawab, tapi aku menolaknya. Perbuatan itu atas dasar keinginan diriku sendiri, untuk memuaskan nafsu erotisku. Tiak hanya Acian pertama kali, menorehkan benihnya kepadaku, dalam hitungan jari, sudah lima ‘pejantan’ mencoba menyemai kepada dirinya.
‘’Anehnya, Tuhan tidak menghukum aku dengan kehamilan di luar nikah. Dan sampai sekarang aku tidak merasakan apa yang namanya ngidam buah mangga. Atau ngidam hat rusa dari perburuan seorang pangeran. Sehingga, aku terus ingin melakukan persetubuhan, ‘’ perempuan tiu berkata sendirian. Nadanya mulai meninggi.
Sesungguhnya perempuan tiu bagaikan mutiara yang kemilau, cemerlang dengan kemuliaan dan keutamaan. Mutiara tidak akan dipisah-pisahkan tempat penyimpannya.
Tempat penyimpannya selalu terkunci rapat untuk mewaspadainya dari musuh yang dekat dan jangkauan tangan para penghianat.
Perempuan itu sesungguhnya taman yang indah. Memiliki pohon hijau dan warna-warni. Taman tersebut dipagari dan pintunya terkunci sehingga hanya orang yang halal sajalah yang diperrbolehkan masuk melalui pintu yang khusus. Apabila dirobohkan, maka taman itu akan menjadi mainan orang yang suka bermain dan rampasan pada pencuri yang berdosa.
‘’Dan teman tiu adalah diriku sendiri yang kini jadi permainan orang-orang berdosa’’. Perempuan itu menjerit. Suaranya bagaikan memiliki kekuatan bathin, sehingga bunga-bunga kertas berguguran satu demi satu. Dia menangis. Airmatanya mengaliri lekukan di wajahnya.
‘’Aku telah menjadi seorang perempuan pendosa,’’ katanya. Dia terus menangisi dirinya. Dan ratapan itu berhenti, setelah azan magrib sayub-sayub terdengar di telinga. Dia beranjak pulang, meninggalkan bunga kertas berseraka, yang tidak akan pernah dibersihkan oleh petugas.
***
MALAMitu, Marsilam menceritakan pertemuannya dengan perempuan ramping berambut pirang, kepada rekannya Yusuf, Saleh dan Firdaus di warung kopi Bu Ijah, tempat biasa mereka mengutang, bila almanak belum menunjukan tanggal gajian.
‘’Lantas, setelah perempuan itu, apakah kamu bersua dengan perempuan tiu lagiSilam?’’ Tanya Yusuf. Bola mata hitam Yusuf, Saleh, Firdaus, berharap jawaban yang tegas dari Marsilam, dan jika perlu jawaban itu ‘’ya’’.
‘’Benar, aku sengaja mengajaknya ke hotel lagi. Biar dia menuangkan semua dosa-daosa yang pernah ia lakukan kepada ku,’’ ungkap Silam.
Kesucian hatiku yang suci sudah menjadi binasa dan kotor, kata perempuan tiu mengejakan hidupnya. Tetesan racun dari setiap kaum lelaki ke zamzamku telah mendatangkan semua virus-virus mematikan. Kulitnya yang putih, terlihat sekali telah bersemi bercak-bercak merah, hingga ke belahan dadanya.
Pernah aku berpikir, saat malam menyelimuti dunia ini, akankah aku hidup difajar besok. Betapa banyak orang sehat, meninggal dunia tanpa sebab sakit. Apalagi orang sakit seperti aku sekarang ini, akan lebih cepat meninggalkan dunia yang penuh fantasi erotis.
Namun, ketika aku llihat tebaran dolar, rupiah, aku melupakan bahwa aku ini sakit. Bahkan aku berangan-angan panjang, ingin membangun rumah untuk orang tuaku dari hasil erotisku. Aku akan memperbaiki atap-atap sekolah bocor, yang tidak pernah diperbaiki oleh pemerintah.
Penyalkit itu terus datang tiap malam, bila aku terkulai lemas di ranjang, tanpa sehelai benang. Paginya, aku keluar di bilik hotel menuju ke kuburan ku sendiri dengan membawa uang. Uang itu, bagaikan tanah-tanah yang menguburi ku hidup-hidup.
Kini aku tak bisa lagi bererotis di dunia fantasi ini. Aku tak boleh lagi melepaskan satu demi satu benang di tubuhku, sehingga orang akan jelas melihat setiap organ ini. Aku tak bisa menyuguhkan secangkir anggur memabukan kepada laki-laki.
Kenapa?. Butir-butir merah di sekujur tubuhku ini, terus merenggut sisa umurku. Mungkin hidupku tak lama lagi. Aku akan meninggalkan cara hawa nafsuku. Naifnya aku, karena tidak mampu lagi berbuat untuk kebenaran. Untuk berdiri saja, aku sudah tidak mampu lagi.

***
‘’BEGITULAH Suf, Leh, tentang perempuan pendosa yang pernahaku jumpai dua kali dibalik bilik hotel yang telah dianggap sebagai rumahnya,’’ jelas Marsilam.
‘’Tidak! Tidak!. Memang secawan anggur merah itu pernah dia suguhkan kepadaku. Namun, aku tidak sanggup meneguknya. Karena aku takut mabuk. Aku takut penyakit dari anggur itu,’’ tutur Marsilam manyakini teman-temannya.
‘’Bagaimana reaksi perempuan itu ketika engkau menolak tawarannya?’’ Tanya Saleh.
Matanya tengadah ke langit hitam. Kening Marsilam berkerut. Bagaikan hardisk komputer, susuanan otaknya berputar, untuk menjawab pertanyaan rekannya.
‘’Perempuan itu tersentak kaget. Dia murka sekali. Tubuhnya yang memang lunglai, karena darah merah sudah tak kuat untuk mendirikan tubuhnya. Perempuan itu marah dan mengeluarkan perkataan kotor terhadap aku’’.
‘’Apa dia bilang?’’
‘’Tanpa selembar benang di tubuhnya, perempuan itu berdiri, 30 centimeter dari wajahku. Dia berkata, sok bersih kamu. Sok suci kamu. Perempuan itu marah sekali, sehingga dia menapari wajahku. Plak…! Aku kaget sekali,’’ ungkap Marsilam.
‘’Setelah itu dia sadar. Perempuan itu menangisi hidupnya.’’
‘’Aku ini bagaikan alien..!’’ perempuan itu menghujani wajahnya dengan air mata.
‘’Jadi, di manakah perempuan yang katanya menjadi perempuan pendosa itu, Silam?’’ Tanya Yusuf.
‘’Dia telah pergi , menembus langit biru, bersama kereta kuda yang diiringi dosa-dosa dunia yang pernah dia lakukan selama ini.
‘’Maksud engkau..?! Yusuf, Saleh dan Firdaus bertanya serentak, dengan tanda Tanya besar, makna yang tersirat dari perkataan rekannya itu.
‘’Kabarnya dia telah menggali lubang kuburannya sendiri. Dengan membawa kesengsaraannya karena menggumpulkan dosa, perempuan itu meninggal dunia. Virus mematikan terus menggerogoti tubuhnya,’’ jelas Marsilam.
‘’Maksudnya AIDS.’’
‘’Ya, perempuan itu rupanya mengindap AIDS. Parahnya, perempuan itu sudah mendekati sindrom ke empat, tak bisa ditolong lagi dengan medis.’’ Marsilam berucap perlahan, di wajahnya menyimpan ketakutan yang sangat.
‘’Aku sangat bersyukur telah terhindar dari kemautan yang begitu cepat. Seandainya aku teguk apa yang pernah dia berikan kepadaku, mungkin aku juga akan mengikuti jejak langkahnya. Bagaikan cerita alien juga,’’ papar Marsilam.
‘’Apakah engkau aknan menuliskan kisah hidup penderita AIDS di koran kita. Inikan berita hebat yang belum pernah dituliskan media kita sejak terbit?’’ Tanya Firdaus.
‘’Tidak..! aku tidak akan pernah mengurai tinta hitam ku di lembaran koran. Dan itu tak akan pernah!’’ tegas Marsilam.
‘’Kenapa kamu tidak menulisnya. Padahal ini cerita eklusif, Silam,’’ kata Firdaus lagi. ‘’Benar Silam,’’ timbal Saleh.
‘’Aku tidak akan pernah mau menulisnya. Ini adalah dosa perempuan itu, aib perempuan itu. Tak mungkin aku menceritakan aib orang di koran ini. Biarlah dosa dan aibnya dibawa ke dalam kubur bersama jasad dan penyakit AIDS-nya. Jadi aku tidak menulisnya. Titik,’’ tegas Marsilam. ***

Yang baca berpahala..


Cengkeh Berbunga
Cerpen : Andra S Kelana

TERIK matahari berpijar, terus saja menjilat kulit wanita berkerudung hitam. Titik-titik cahayanya, seumpama lidah api yang menjulur dan membakar kulitnya yang putih. Air laut yang asin, meniupkan aroma hamis, menusuk hidung. Tapi, wanita berkerudung hitam itu tidak bergeming. Dia masih berdiri tegak diujung dermaga antar pulau, tempat persinggahan kapal-kapal barang dari Midai, Sarasan, Tarempa, Letung, Tanjungpinang, maupun pulau-pulau sekitarnya.
Wuss!
Angin laut menampar wajahnya. Kerudung hitam, sekali-kali tersibak, dan kelihatan tengkuknya yang putih dihiasi bulu roma halus. Tetapi, hari itu. Rabu, dia ingin menghabiskan waktunya menantikan kapal kargo datang menghampiri dengan membawa sang bujang yang menjadi kekasihnya bernama Sulaiman. Pria inilah yang ingin mempersunting dirinya, tetapi gagal karena tidak sanggup menyiapkan jutaan rupiah uang antaran, sebagai syarat untuk mempersunting dara-dara di kampungnya.
‘’Sudahlah Nur.! Tak perlu engkau menanti jantan yang tak jelas itu. Engkau pilihlah satu diantara kami berlima ini. Muka sudah hansem, rambut keriting, duit pun segepok di dompet, ape lagi,’’ Wan Syamsir menggoda gadis berkurung hitam. Orang di kampung sering memanggil Nurmala, karena memang wajahnya cantik bercayaha.
‘’Betul Nur. Tak perlulah engkau bersusah payah menunggu Leman yang tidak jelas. Jangan-jangan diapun dah bebini pulak di kampung orang,’’ Hardi, menimpal, memasang kuda-kuda, agar dirinya menjadi nominasi pilihan Nurmala.
‘’Nurmala! Nurmala!, kenapa awak ni teruk sangat menunggu-nunggu orang yang tidak peduli lagi. Aku tengok pun badan awak sudah semakin kelihatan tua. Kalau tahun ini engkau tak berkahwin juga dengan kami-kami ini. Alamak..! jadi perawan tua,’’ ejek Nazaruddin.
Sememangnya, Nazaruddin dari dulu ingin sekali melamar Nurmala, tetapi citanya hanya bertempuk sebelah tangan. Nur lebih memilih Sulaiman, yang hanya memiliki kebun Cengkeh sebanyak 5 hektar. Sedangkan Nazaruddin merupakan keturunan orang berada. Kebun Cengkeh berpuluh-puluh hektar, ada kapal tongkang menangkap ikan. Ibarat kata, berapa pun permintaan uang hantaran pertunangan diminta, mungkin akan dipenuhi oleh keluarga Nazaruddin, asalanya Nurmala menerima pinangan anaknya.
Tak bergeming!
Nurmala tidak menghiraukan ejekan yang menyayat hatinya. Terkadang dia berpikir secara akal sehat, untuk apa lagi menunggu pria yang sudah bertahun-tahun meninggalkan dirinya. Ketika jiwanya lagi gundah-gulana seperti ini. Jiwanya yang kosong, terbesit juga dihatinya untuk tidak menghiarukan lagi pria bernama Sulaiman. Dan dia akan menguburkan impian cintanya bersama Sulaiman di tengah-tengah bukit.
‘’Sudahlah Nurmala untuk apa engkau menunggu Sulaiman. Dia sudah menikah dengan gadis lain di kampung sana. Lebih baik engkau mencari pria lain saja di kampung sini.’’ Makhluk yang paling terkutuk bernama setan menggoda Nurmala.
Nurmala hampir saja terhanyut bujuk rayu setan!
‘’Astaghfirullah..! Ya Allah ampunilah dosa-dosa hamba, jauhkan setan dari diriku,’’ ucap Nurmala.
Tetapi, karena kata ‘janji’, haruslah ditepati. Walaupun usia sudah semakin berkurang, janji harus dipegang. Itulah kata kesetiaan yang terpatri dan kukuh olehnya. ‘’Orang melayu tak boleh ingkar janji’’ Dan dia yakin, Sulaiman pun akan memegang janji itu.
‘’Abang tetap cinta dengan Nurmala. Abang pergi merantau dan akan pasti pulang jika harga cengkeh di Natuna kembali berjaya seperti dulu. Abang berjanji akan melamar dinda, walaupun umur kita sama-sama tua,’’ kata Sulaiman, sambil mencolek hidung Nurmala.
‘’Tapi…!’’
‘’Tapi apa bang.’’
‘’Asalkan dinda rela menunggu dan tidak dilamar orang. Dindakan cantik, pasti banyak bujang-bujang di kampung ini siap melamar,’’ kata Sulaiman melemparkan senyum. Kata-kata inilah yang selalu dikenang Nurmala. Janji diujung dermaga, bagaikan mahar pertunangan yang tidak boleh dihilangkan begitu saja. Sehingga Nurmala menjadi seorang gadis yang tidak pernah tersentuhkan oleh lelaki.
Pertautan kasih antara Sulaiman dan Nurmala tidak ada satupun insan yang bernyawa sanggup memisahkannya. Tetapi, apa hendak dinyana, jodoh, rezeki dan maut sudah diatur sama Allah SWT, maka perpisahan itu datang juga menghampiri mereka, karena sebuah kebijakan pemerintah dan permainan dari pemerintah dengan menghargai cengkeh di Natuna sangat murah per kilogram.
Harga cengkeh murah!
Sulaiman terpukul. Orang-orang kampung yang memiliki kebun cengkeh marah besar. Ada yang menebang pohon cengkehnya. Ada yang membakar kebunnya, dan beralih ke usaha lainnya. Kebijakan harga cengkeh murah oleh BPPC itu, telah memutuskan mata rantai perniagaan di daerah ini. Warga menjadi miskin. Semua harapan membeli emas, membeli televisi besar yang diinginkan masyarakat, pupus sudah dengan berlinang arimata.
Sulaiman. Pria ini tidak membakar, tidak menebang pohon cengkehnya. Tetapi, dia hanya membiarkan kebunnya menjadi semak belukar, tempat burung-burung menari kesana-kemari.
BPPC. Seperti ombak besar setinggi 6 meter yang menggulung-gulung dan membelah perahu kasih Sulaiman dan Nurmala. Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh membuat dirinya, dan cintanya terpisah jauh. Sulaiman merantau, dan berjanji akan kembali untuk naik di pelaminan, jika harga cengkeh di Natuna naik. Sementara, Nurmala, menggadis tua menanti sang pujangga kembali.

***
BERTAHUN-TAHUN lamanya, harga cengkehpun naik. Pemerintah mengeluarkan kebijakan dengan membeli cengkeh dengan harga tinggi, walaupun harus disubdisi dari APBD. Langkah ini, merupakan, langkah awal pemerintah daerah membuka kembali jalinan perniagaan dengan para saudagar-saudagar luar daerah, yang dulu memang sempat mengalami masa keemasannya. Pemerintah berharap, pola ini benar-benar dapat menggerakan ekonomi masyarakat tempatan.



Kebijakan inilah yang diharapkan oleh sebagian besar masyarakat di Natuna. Kebun cengkeh yang selama belasan tahun seperti mati suri. Dibiarkan begitu saja. Tidak diurus, bersemak belukar, bercendawan, mati..! Namun setelah pemerintah daerah, melakukan subsidi dengan menaikan harga cengkeh, wajah-wajah petani cengkeh yang dulunya kuyu, kini mulai bergairah kembali. Bahkan ada di antara warga petani yang mencari bibit cengkeh untuk peremajaan.
Nurmala!.
Gadis ini bagaikan disuntik insulin. Wajah yang dulunya, seperti kayu ranting rapuh, berangsur mengeluarkan tunas-tunas kecantikan. Semua rencana yang dulu terkubur dalam-dalam, mulai digali.
Bayangan Sulaiman yang datang dengan iringi-iringan para dayang-dayang membawa tepak berisi hantaran belanja. Bunyi kompang dari belakang, plak…! tung..! takk tung..!, serta disambut silat pengantin dua pria berpakaian hitam, menghiasi kelupuk matanya.
Tak heranlah untuk mewujudkan impian itu, tiap 15 hari sekali, Nurmala selalu pergi ke dermaga menanti datangnya kapal, menjemput sang pujangga. Sebab, Sulaiman pernah mengungkapkan kata-kata; ‘’Abang akan pulang, jika harga cengkeh di Natuna ini naik’’.
‘’Harga cengkeh sudah naik, bang Leman pasti sudah mengetahuinya, dan pasti akan pulang,’’ gumamnya dalam hati. Tetapi apa dinyanya, berminggu-minggu, berbulan-bulan, Sulaiman tak juga pulang ke kampung. Sudah berpuluh-puluh kapal singgah berlabuh, tetapi Sulaiman tak pernah ada.
Setiap orang datang, selalu mendapat pertanyaan dari Nurmala. Apakah pernah melihat Sulaiman di Batam! Tanjungpinang! Kalimantan! Karimun! atau daerah-daerah lainnya. Namun, jawabannya, tidak pernah tahu. Nurmala lemah. Wajah menawannya mulai tak bermaya. Menangis adalah bagian dari hidupnya.
Meskipun cengkeh sudah berbunga indah, harganya naik, tetapi hati Nurmala terasa sepi tak ada yang memiliki. Hatinya tidak pernah berbunga, seperti bunga cengkeh. Bahkan hatinya semakin layu. Harga cengkeh tidak bisa mengobatinya hatinya yang rindu akan Sulaiman.***

Yang baca berpahala..